15 Maret 2007

CITA CINTAKU- AYAH DAN IBU

Oleh : Cahyaningtama

Ketika kalian berkata sayang padaku, aku selalu mengerti
Tidak saat ini, aku tak paham sayang itu
Kalian marah karena aku ingin memilih jalan hidupku sendiri
Kalian anggap itu sia-sia, hentikan paksa aku

Larangan-demi larangan terucap dan mengungkungku
Sadarkah kalian bahwa akupun punya harapan serta impian
Aku juga punya rasa cinta, tapi….itu tak mungkin lagi aku raih
Aku kini lelah, aku tak ingin sakiti kalian dengan cintaku

Agama, ras, suku, semua jadi penghalang
Aku yakin aku hidup tidak sendirian
Aku yakin tidaklah lahir selalu sama

Biar kujalani semua sendiri
Biar aku relakan satu cintaku itu pergi
Biar semua temukan cintanya
Karena aku akan tetap disini

Aku pilih untuk disini terus dengarkan
Aku pilih disini untuk bersama
Aku berdiri teriakkan pembebasan

Penindasan atas kalian adalah dukaku
Untuk cita dan cintaku yang satu ini kalian tidak berhak lagi mendikteku,Ayah,Ibu

Baktiku tuk kalian tak kulupa
Tapi aku takkan lupa cita dan cintaku
Pada negri yang kucintai
Tak perlu lagi ada amarah-larangan

Akukan pilih jalanku dalam gerak sejarah
Panggilan jiwaku kan kemerdekaan

GELIAT !!!

by:... (Nur Badrianto)

Dia, seorang anak muda yang tampan namun penuh dengan tanda tanya, mencoba mempertanyakan hal-hal yang selama ini telah mapan, mungkin dapat disebut juga sebagai orang yang antikemapanan. Adakah telah merasuk dalam benak kepalanya apa yang disebut orang sebagai dekonstruksi dan ia latah ikut-ikutan melakukannya? Iya’ betul.
Sepertinya tidak, ia adalah orang yang mencoba sadar terhadap pilihan hidupnya. Salah satu yang paling disukainya, dalam perjalanan hidupnya selama ini, adalah memahami sejarah. Baginya kesadaran terhadap sejarah harus dimiliki, agar kesalahan-kesalahan yang menimpa umat manusia pada masa lalu tidak terjadi lagi pada masa sekarang atau masa mendatang.
Sebagai seorang anak yang dilahirkan pada masa Orde Baru, dia tidak mengalami hiruk pikuk pergelutan politik yang sering diceritakan oleh orang-orang tua serta buku-buku yang wajib dibacanya di sekolah menengah atau pada penataran-penataran. Kata orang, pada masa lalu telah terjadi peristiwa yang teramat carut marut, penuh kekerasan yang mengalirkan darah dan airmata. Dia adalah anak yang dibesarkan masa pembangunan Orde Baru, yang tak pernah menyaksikan atau merasakan pahit getirnya perjuangan revolusi 1945, serta kejadian-kejadian yang menyusul setelah itu, dia hanya hidup di era Orde Baru yang tidak menjalankan lagi Pancasila dan UUD 1945 dan konsep demokrasi secara murni dan konsekuen, dan kemudian disertai dengan tumbangnya Soeharto saat Reformasi 98 diganti Habibie kemudian Gus Dur dan sekarang Megawati serta masih banyak lagi peristiwa yang seakan membuat jiwa heroismenya berkembang.
Dia, seorang mahasiswa angkatan 99-an pada sebuah universitas terkemuka di kota ini, dengan pikiran-pikiran linear pada awal memasuki perkuliahan, berbekal pesan dari orang tua agar cepat lulus dengan nilai terbaik.Tapi apa mau dikata, sepertinya bukan salah bunda mengandung, Dia, yang memang sejak kecil menyukai dongeng-dongeng sejarah serta rajin membaca, ditambah lagi sedikit kemampuan menulis dan berorganisasi (yang didapatnya pada sekolah menengah) tergoda untuk mencemplungkan diri pada sebuah arena permainan yang selama ini hanya dikenalnya dari buku-buku sejarah. Pada awalnya dia yang menonjol bakat kepemimpinannya tertarik untuk mengikuti sebuah organisasi mahasiswa ekstra kampus, dan mulailah perjalanan hidupnya diwarnai dengan berbagai hal, dan muncullah kembali pertanyaan-pertanyaannya tentang sejarah. Kembali ia tergoda untuk meragukan berbagai hal yang diyakininya selama ini sebagai sebuah keyakinan sejarah yang tak dapat diganggu gugat. Dia membaca berbagai buku serta media massa dengan begitu lahapnya, tanpa memperdulikan dari mana sumber tulisan itu. Dia teramat ingin tahu, ingin dilahapnya semua informasi yang didapatnya, karena dengan begitu, menurutnya akan didapatkan sebuah keseimbangan, sebuah keadilan dalam menilai segala sesuatu.
Berbicara dengannya seperti berbicara dengan hantu. Referensi tentang berbagai hal, sepertinya telah membuat lebih tua dari seharusnya. Janganlah lagi jika ditanya tentang gerakan mahasiswa, yang dapat diceritakan dan dianalisisnya secara luar biasa, tentang berbagai hal diluar itu pun seperti filsafat, seni, agama dan masih banyak lagi akan dibahasnya, dari berbagai sudut latar belakang sejarah yang coba dievaluasi dan dimaterialkan dalam hidup ini. ”Di luar dari praktek nilai aksiom yang mendua, praktek itu tidak memiliki kritik teoritik. Bagaimana kita benar-benar men­gerti makna 'keadaan'? Jika 'keadaan' diartikan sebagai suatu interval waktu yang kecil sekali, maka satu pon gula yang kita maksud ada dalam satu keadaan menuju perubahan yang tak terelak­kan. Apakah pengertian 'keadaan' adalah murni suatu abstraksi matematis, yaitu besaran waktu yang kosong?
Segala sesuatu eksis dalam konteks waktu, karena itu sebagai konsekwensinya, waktu adalah elemen dasar dari keberadaan/eksistensi. Jadi, menunjukkan bahwa satu hal sama dengan dirinya, jika ia tidak mengalami perubahan, yaitu: jika ia tidak exist"
Pertemuanku dengannya sering di sebuah kafe favoritku, pojok kota yang bening dan muram, pinggiran mainstreet. Ruangan kafe yang tak begitu luas dan hanya ada beberapa meja kursi. Suasana tak seramai kafe kota karena hanya ada beberapa gelintir orang, yang rata-rata sopir truk barang lintas propinsi. Di iringi musik lembut portir menghampiri kami dengan ramah dan selalu menyebut namaku dengan salah " Hallo Baba!" yang aku sendiri tak tahu siapa Baba itu. Malam berkelindapan, hujan habis sesore dan suara ilalang bergetaran. Di luar beberapa hewan malam menginap di kabel-kabel telefon. Ada satu hal yang mungkin merupakan kekurangan (atau kelebihannya barangkali), selama ini aku tak melihat ada seorang perempuanpun yang menjadi orang istimewa disampingnya atau sebutlah pacar atau kekasih yang menjadi tumpahan perasaan dan perhatiannya. Sepertinya ia memperlakukan semua perempuan dengan perlakuan serta perhatian yang sama (aku tahu dia sering mampir kerumah seorang perempuan hanya sekedar untuk minta kopi tidak lebih). “…Mau punya pacar atau tidak, itu kan tidak ideologis, itu hanyalah sebuah proses hidup dimana manusia adalah makhluk universal…”,
" Tentang kita atau kepanikanmu. Kenapa kau tak pernah menganggap suatu kewajaran dari apa-apa yang kita lakukan atau lebih tepatnya aku lakukan. Aku berkuasa atas diriku. Kalau kau tak mengartikulasikannya dengan wajar maka kau layaknya seorang Narsisus yang tak siap menerimaku secara utuh, tentang dua dunia yang harus di satukan, tentang dua kutub wilayahku yang harus bersandingan secara harmoni dan seimbang. Tuhan menciptakan dunia gelap dan dunia putih menjadi sebuah kesatuan yang tak bisa kita nafikan salah satunya, kalau kita ragu dalam memilih sebuah pilihan hidup maka jangan coba-coba kau lakukan,katanya suatu ketika.?”
"(Ha...ha…ha… aku sering ingin tertawa sendiri jika mendengar argumentasinya, sambil menjabarkan tentang segala hal tentang cinta, menurut Erich Fromm, Sigmund Freud, Gibran serta penyair-penyair romantis, bahkan Marx sekalipun yang dikenalnya lewat buku-buku, dan menyimpulkannya sendiri dengan muara kepada dirinya sendiri… Dasar! ).
Boleh dibilang, Dia adalah sosok manusia yang humanis yang menempatkan cinta sebagai sebuah wacana universalitas, dan kehidupan manusia demikian penting sehingga harus diberi makna, sesuai kodratnya. Dia akan teramat marah, ketika ketidakadilan nampak di depan matanya. Intrik politik dan permasalahan dalam masyarakat yang tak pernah selesai adalah bukti ketidak becusan pemerintah dalam melaksanakan keinginan rakyat katanya. Yang pasti, sosoknya itu dan pemikiran-pemikirannya telah membuahkan inspirasi bagiku. Dia sangat suka kalau aku sodori puisi-puisi yang bertemakan sosial. Katanya, nah ini baru puisi namanya. Aku teringat Dia, seseorang yang berarti bagi sekelilingnya, walau mungkin sejarah tak mencatatnya. Karena katanya, Sejarah hanya milik orang-orang besar dan serdadu!
Untuknya aku pernah menulis begini:

Bicaralah, aku kan mendengarkan kata-katamu sebagai bisikan pilu dari seorang manusia yang menghuni dunia sakit jiwa. Tatapan kosong. Senyum yang ditebarkan pada ruang. Kau lihatkah Freud menyorotkan senternya ke dalam matamu. Menemukan deretan panjang keluhan, ditekan dalam ke alam bawah sadarmu yang gelap. Berapa lagi pil penenang yang harus ditelan untuk melupakan mimpi buruk kenyataan yang berulang datang, dan lari ke dunia. Langkah itu begitu ganjil bikin tatapan heran sekelilingmu yang penuh tatakrama. Penuh aturan manusia. Adat istiadat yang mengharuskan kau berbuat normal.Lampu senter yang disorotkan ke dalam mata. melihat keterasingan di dalamnya. Penuh makian!

Dia pun tertawa membacanya, dan berkomentar: ah, kau anggap aku gila ya...mungkin benar juga, tapi sepertinya kita dihimpit oleh persoalan-persoalan yang membelenggu pemaknaan terhadap kehidupan manusia.
Namun, ada beberapa tulisan lagi yang belum dibacanya, yang aku tulis setelah pembicaraan tempo hari, mungkin aku terpengaruh argumentasinya. Akan meledak juga akhirnya, kemarahan itu, membakar gedung-gedung serta harta benda yang begitu kau cintai. Massa yang mungkin sukar kau mengerti maunya. Orang-orang yang menyimpan api dalam kepalanya dari waktu ke waktu, rasakan berjuta perasaan dalam dada bergalau tak karuan. Orang-orang yang memandang pameran kemewahan, namun mereka tiada mampu memilikinya, walau keringat telah diperas begitu deras, walau tulang belulang telah dibanting dengan begitu keras. Namun tetap saja yang terlihat ketidakadilan yang disodorkan di mana-mana. Mengapa kau tanyakan lagi; apa sebab kerusuhan itu terjadi. Darah membanjir. Air mata mengalir. Sedangkan jeritan itu tiap detik diperdengarkan meminta perhatianmu. Dan tak juga telingamu mendengarnya? Tidak ada satupun sistem sosial yg permanen, apa yang tetap adalah perkembangan dan transformasi masyarakat secara terus menerus. Kenyataan konkret dari kebenaran berarti bahwa pengetahuan kita tentang obyek dan fenomena di luar dunia haruslah sebuah kesatuan dari multiformitas, lebih dari sebuah refleksi dari satu aspek darinya. Setiap obyek dari realitas material memiliki seperangkat sifat-sifat dan keterkaitan obyek yang lain; lebih jauh lagi, hal tidak hanya memiliki kualitas umum namun juga memiliki kualitas uniknya.
Jemariku melukis dengan gemetar sebuah kota yang gemuruh, yang mencampakkan orang--orang yang kesepian ke dalam plaza, diskotik, cafe yang riuh serta ruang hotel hendak lunaskan mimpi senggama. Karena industrialisasi (juga modernisasi + westernisasi) telah mencemplungkan mereka ke dalam limbah-limbah pabrik dan melemparkannya ke udara yang pengap. Namun tak jera juga manusia mengadu nasibnya dengan map penuh kertas di tangan mengetuk pintu-pintu kantor, dimana mimpi-mimpi akan di simpan di dalamnya. Dan pada kerusuhan yang meledak di segala penjuru. Kita tatap wajah siapa. Selain orang-orang yang lelah dan benak penuh api, yang akan membakar, apa saja. Di tanganku yang gemetar, kota yang meledak menggigilkan harapan ke sudut-sudut peradaban.
Yang pasti beberapa hari ini aku tak pernah berjumpa dengannya, mungkin jiwa avonturirnya membawanya pada sebuah pemaknaan hidup seperti perempuan misalnya atau kehidupan buruh yang membuatnya selalu merasa sedih karena penindasan dari kaum pemilik modal yang dia pelajari selama ini dari teori-teori klas, tetapi yang pasti adalah bahwa Materi selalu dan terus-menerus dalam gerak. Dunia ini ada dalam keadaan gerak dari dia ada, berkembang, berubah dan lenyap. dan bahwa ia telah mendominasi dunia selama ratusan tahun, dan selanjutnya ia dalam proses digantikan oleh “sosialisme”.

07 Maret 2007

Republik Preman

Puisi: Joko Suharyanto

Pagi ini aku baca berita di koran :
Kantor dan Rumah Pimpinan sebuah Surat Kabar di sita Pengadilan
: Pembredelan gaya preman
Ini tak bisa dibiarkan

Kemarin aku lihat berita televisi :
Kekerasan di luar batas kemanusiaan
terjadi di lembaga pendidikan
yang mencetak Pemimpin Pemerintahan
: Pendidikan gaya preman
ini tak bisa dibiarkan

Suatu waktu aku dengar cerita seorang kawan:
Yang diburu dan dianiaya
Hanya karena menyuarakan kebenaran
: Kesewenang-wenangan gaya preman
ini tak bisa dibiarkan

Apakah esok masih akan aku dengar
Pedagang kecil dan rakyat miskin disingkirkan
Dengan penggusuran gaya preman
Anak-anak jalanan dan para pelacur dinistakan
Dengan penertiban gaya preman

Sementara
gedung-gedung pemerintahan
gedung-gedung dewan
gedung-gedung pilar keadilan
menjadi sarang preman

Sebuah negeri
Di mana pemimpinnya dengan suka rela
bergandeng tangan dengan preman
bertingkah laku seperti preman
tinggal menunggu waktu kehancuran
INI TAK BISA DIBIARKAN !!!

Purwokerto, 30 September 2003

Sepanjang Madinah – Jakarta

Cerpen: Joko S. Haryanto

Penerbangan Madinah – Jakarta terasa lama sekali, pesawat Saudi Air yang mengangkutnya pulang ke tanah air seakan tidak menghendaki Maryam bertemu orang-orang yang sangat dirindukannya. Orang-orang yang diharapkan bisa memberinya keteduhan dan perasaan aman. Betapa dirinya sangat ingin dimanusiakan. Perjalanan yang mestinya menyenangkan ini terasa sangat membosankan. Perasaannya tidak menentu, keinginannya untuk cepat-cepat sampai ke rumah silih berganti dengan kenyataan dan bayangan wajah-wajah kecewa dari orang-orang yang menantinya.
Belum genap satu tahun ia meninggalkan kampung halamannya. Sebuah desa pesisir di pantai selatan Pulau Jawa di kaki sebelah barat bukit Selok. Sesekali Maryam teringat desa kelahirannya. Terbayang olehnya tumpukan bata merah di kanan-kiri jalan menuju desanya dan raungan truk yang mengangkut ratusan kubik batu bata menuju ke kota. Sesekali melintas iring-iringan truk besar menuju lokasi penambangan pasir besi di sebelah selatan desa. Jika melihat truk-truk tua itu berjalan terseok-seok dengan muatan penuh berton-ton pasir besi, ia teringat ayahnya. Lelaki tua yang hampir seluruh umurnya dihabiskan untuk menjadi buruh mencetak batu bata. Pekerjaan itu ditekuni sejak masih anak-anak, demikian juga orang tuanya secara turun temurun.
Keadaan itulah yang mendorongnya mengikuti jejak beberapa tetangga yang telah ‘sukses’ mengadu nasib di negeri orang. Ia tidak ingin ketiga adik lelakinya menjadi buruh mencetak batu bata seperti orang tua dan kakek buyutnya. Bergelut dengan lumpur di bawah ganasnya terik matahari pantai selatan. Ia ingin adik-adiknya bersekolah minimal sampai SLTA, walaupun ia tahu di jaman sekarang itu bukan jaminan, tetapi setidaknya ia telah berusaha. Ia ingin memutus siklus yang telah berjalan berpuluh-puluh tahun yang telah menjadi lingkaran setan yang membelenggu keluarganya seperti ratusan keluarga yang lain.
“Pergilah Nduk,” kata ayahnya ketika itu. “Kamu masih muda, impian kamu masih banyak. Bapak hanya berpesan jaga dirimu baik-baik, kita semua tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada dirimu.”
Dukungan dari orang tua dan saudara-saudaranya, membesarkan hatinya.
“Tapi jika sampai terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan, kamu harus berani menghadapi kenyataan. Jangan malu untuk pulang. Apapun yang terjadi, kami tetap menunggu kepulanganmu.”
Menjelang pesawat yang ditumpangi mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, kegalauan hatinya bertambah. Ia tak sanggup membayangkan pertemuan yang sangat dinanti-nantikan sekaligus ingin dihindari itu. Betapa tidak, tujuh bulan yang lalu ayahnya merelakan menjual kedua ekor sapi yang merupakan tabungan keluarga itu untuk biaya keberangkatannya ke Arab Saudi. Dengan harapan kelak ia bisa menggantinya dengan gaji yang ia terima selama bekerja di sana. Penghasilannya selama dua tahun bukan saja cukup untuk membeli dua ekor sapi, bahkan ia berencana untuk membangun rumah orang tuanya menjadi rumah permanen yang layak huni. Sisanya untuk biaya sekolah adik-adiknya.
Untuk dia sendiri, ia berencana memperpanjang kontrak selama dua tahun lagi. Dengan uang itu ia berencana membeli sebuah pick-up bekas. Desanya yang terkenal sebagai penghasil batu bata dengan kualitas baik memberinya inspirasi untuk membuka usaha jasa pengangkutan. Mas Darno yang nantinya akan menjalankan usaha itu. Dengan pengalamnya selama ini sebagai seorang sopir, kekasihnya itu tentu memiliki banyak relasi toko bahan bangunan di kota dan juga para juragan batu bata di desanya. Demikian masa depan yang dibayangkan dengan penghidupan yang lebih baik bersama orang yang dicintainya. Sebuah impian yang bagi orang lain mungkin terlalu sederhana.
Maryam teringat saat itu, hari Minggu terakhir menjelang keberangkatannya ke Arab Saudi tujuh bulan yang lalu. Deburan ombak laut selatan seakan gairah dan tekad dirinya yang menggelora. Kaki-kaki kecilnya terus saja berjalan menelusuri Pantai Srandil. Di sebelahnya dengan penuh kesabaran kekasihnya mengikuti setiap langkahnya.
“Mas Darno tidak keberatan saya pergi?” Maryam berkata pelan, sambil terus berjalan dan membiarkan pecahan ombak menjilati kakinya.
Yang ditanya hanya menggelengkan kepala, “Dua tahun bukan waktu yang lama dibanding masa depan kamu dan adik-adikmu.”
“Masa depan kita juga, Mas.”
Kembali keduanya terdiam. Desir angin yang kencang dan debur ombak laut selatan yang selalu menggelora itu seakan mewakili percakapan mereka. Angin melambungkan harapan dan debur ombak adalah tekad. Sayang hanya butiran pasir halus dan jilatan lembut pecahan ombak yang ia rasakan sepanjang pantai. Padahal di luar sana ada banyak kerikil yang harus ia lewati yang mungkin akan membuat kaki-kaki kecilnya terluka.
Bus yang mengangkutnya dari terminal II ke terminal III Bandara Soekarno-Hatta sudah ia tinggalkan. Maryam semakin gelisah. Berbagai macam pungutan dan proses yang panjang dan melelahkan serta sikap petugas yang kadang tidak simpatik, sama sekali tak mengusiknya. Ia tak pernah berpikir bahwa seandainya setiap hari ada 500 TKI yang pulang berarti ada puluhan juta rupiah uang yang dipungut dari mereka. Itu berarti ada lebih dari satu milyar rupiah setiap bulan, uang yang dipungut dari orang-orang seperti dirinya. Jumlah yang cukup banyak. Cukup untuk pendanaan sebuah program perlindungan dan pembelaan orang-orang seperti dirinya. Program yang berpihak pada mereka, para penghasil devisa, para pahlawan keluarga yang menggerakan roda perekonomian di desa-desa.
Namun Maryam dan juga yang lainnya, menjalani saja semua itu sebagai sesuatu yang dianggap sudah semestinya. Pasrah. Ya, hanya kepasrahan yang masih mampu membesarkan hatinya dan memberinya keberanian untuk menghadapi kenyataan. Apa yang bisa dilakukan oleh orang-orang seperti dirinya? Melawan? Tidak! Ia diajari untuk selalu menerima apa saja yang terjadi pada dirinya sebagai takdir yang memang sudah seharusnya terjadi. Ia hampir tidak pernah mengenal kata-kata itu. Bahkan saat ini ia bertekad untuk tidak bersentuhan lagi dengan kata-kata itu sepanjang hidupnya. Dua kali ia mencobanya, dua kali pula ia menderita.
Pertama, ia mencoba melawan nasib buruk dengan meninggalkan kampung halamanya. Ia harus menerima kesendirian, keterasingan dan kerinduan yang sangat dalam. Kedua, ia mencoba melakukan perlawanan terhadap nafsu bejat majikan dan ia harus menerima kenyataan bahwa dirinya telah kehilangan mahkota sekaligus masa depan yang ia impikan. Jadi, apalah artinya kehilangan sekian puluh ribu rupiah dan sekian jam waktu untuk berbagai macam pendataan dan pemeriksaan. Baginya, semakin cepat ia tinggalkan bandara, semakin cepat ia sampai ke kampung halamannya, semakin cepat ia tahu bagaimana reaksi orang-orang yang dicintainya.
Kemudian ia akan memulai lagi kehidupannya. Namun kali ini ia hanya bisa berharap. Berharap saja, lain tidak. Berharap orang-orang yang dicintainya bisa menerimanya kembali. Kembali menjadi bagian hari-hari mereka. Kembali dengan keakraban debu, pasir dan ombak laut selatan. Seperti Bukit Selok yang kini kehilangan keteduhannya, kehilangan hijaunya, gersang dan tandus akibat nafsu serakah manusia, toh masih mampu berdiri tegak bersanding dengan Pantai Srandil tanpa membuatnya kehilangan pamor dan kewibawaannya. Kembali menjalani kehidupan yang sudah terlanjur direntang barsama. Cukup panjang. Sepanjang perjalanan yang baru saja dilaluinya, perjalanan Madinah – Jakarta.

Purwokerto, 21 Oktober 2003

Orang-Orang Yang Kehilangan Hati

Cerpen: Joko S. Haryanto

Dua orang gembel yang sejak tadi duduk di bawah pohon mengamati hiruk pikuk orang-orang yang berdatangan ke sebuah gedung. Puluhan orang mendatangi gedung ini secara berombongan. Ada diantara mereka yang membawa poster dan spanduk. Berbeda dari biasanya dalam rombongan tersebut terdapat seorang mantan presiden bahkan terdapat puluhan wartawan yang biasanya meliput kegiatan-kegiatan seperti itu, sekarang justru mereka diliput oleh sesama rekan wartawan. Rupanya ada sesuatu yang sangat penting yang sedang terjadi di sana.
Gepeng dan Parjo, nama kedua gembel itu sebenarnya tidak begitu tertarik dengan apa yang terjadi baik di dalam maupun di luar gedung. Namun disaat terik seperti sekarang ini tidak ada hal lain yang bisa mereka lakukan kecuali duduk-duduk dan sesekali rebahan di bawah rindangnya pohon sambil menghabiskan waktu. Mereka berharap disaat makan siang nanti kembali menemukan menu favorit di keranjang sampah di dekat areal parkir gedung itu.
“Jo, kenapa ya, justru di tempat seperti ini kita bisa menemukan ati, bukannya di restoran atau di warteg ?” Gepeng membuka percakapan sambil merebahkan dirinya di samping Parjo.
“Nggak tahu Peng. Lagi pula kenapa kamu kok tanya soal itu ? Buat kita yang penting kan ada makanan untuk ganjal perut. Soal kita dapatnya di sini atau di tempat lain tidak jadi masalah. Mungkin orang-orang yang ngantor di situ tidak doyan jeroan. Katanya sih kalau di luar negeri jeroan itu untuk makanan ternak.”
“Sok tahu kamu Jo, memangnya sudah pernah ke luar negeri?”
“Lho itu kan kata orang”
“Nggak ah, buktinya di warteg-warteg jualan ati ayam”.
“Sudah lah, buat apa sih kita ribut soal itu.”
Gepeng bangun dari rebahannya dan kembali duduk sambil matanya menerawang ke halaman gedung, “Saya cuma penasaran. Setiap hari kita bisa makan ati di sini. Bagaimana kalau besok pagi kita intip?”
“Intip bagaimana?”
“Ya kita lihat siapa yang membuang-buang makanan yang kata kamu kalau di luar negeri untuk makanan ternak ini.”
“Iseng banget sih, mending kita cari air, aku haus nih” Parjo menanggapi usul dari temannya dengan malas.
“Baiklah, jangan kuatir aku masih menyimpan sedikit air,” kata Gepeng sambil menyodorkan botol yang di ambil dari dalam tasnya. “Cukup kan?”
Matahari tepat di atas ubun-ubun mereka. Bergantian kedua gembel itu menenggak air dari dalam botol, sebagian tumpah mengalir lewat sudut bibir kemudian diseka dengan tangan, lantas keduanya tertawa. Kesegaran terpancar dari kedua mata mereka, berbeda dengan orang-orang yang melewatinya. Lalu lalang orang dengan kesibukan dan tujuan masing-masing tidak sedikitpun menjadi perhatian kedua gembel itu. Dari tahun ke tahun gembel yang sudah jadi gelandangan sejak anak-anak ini menyaksikan hal seperti tu sehingga akhirnya terbiasa. Sepintas kedua gembel itu seperti sedang mentertawakan orang-orang di sekitarnya. Apa yang sebenarnya mereka kerjakan dari pagi hingga sore, dari hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan, tahun ke tahun tak ada hentinya mereka berkejaran dengan waktu. Sementara tidak ada perubahan yang berarti kecuali bagi mereka sendiri. Anak-anak yang mengantungkan nasib mereka di jalanan semakin bertambah banyak, gelandangan bertebaran di mana-mana, pengemis, polisi cepek, pengamen dan pemulung saling bersaing antar mereka karena saking banyaknya.
Yang membuat kedua gembel itu tidak habis pikir adalah kenapa masih sering mereka lihat orang-orang yang berjualan di pinggir jalan dikejar-kejar petugas ketertiban, dagangan dan tempat berjualan mereka di obrak-abrik sampai berantakan, sementara masih ada ratusan bahkan ribuan orang yang tidak punya pekerjaan berkeliaran menyesaki jalan. Rumah-rumah digusur diporak-porandakan dan penghuninya diusir tanpa rasa kemanusiaan, sementara dirinya dan ribuan orang yang senasib bertahun-tahun menggelandang tanpa tempat tinggal dan entah sampai kapan.
“Jo, gedung itu sih kantor apa ya ?” pertanyaan Gepeng memecah suasana yang beberapa saat hening, sambil mengarahkan telunjuknya ke gedung yang berada di depan mereka.
“Itu kan Kantor Pengadilan. Kalau kamu pengin berada di sana, nyolong ayam saja” Parjo menjawab pertanyaan temannya dengan ketus.
“Ya kalau dibawa ke sana, kalau mati dikeroyok orang bagaimana?”
“Makanya kamu jangan tanya yang macam-macam lah, ada apa sih?”
“Enggak. Itu lho, kok di depannya ada gambar ibu-ibu yang membawa pedang sama timbangan tapi matanya di tutup pakai kain.”
“Mungkin dulu pernah ada ibu-ibu nyolong timbangan di pasar, lantas dihukum di sana. Seperti yang kita lihat di layar tancap tempo hari, orang yang dihukum pancung kan matanya ditutup kain. Nah, pedang yang di bawa itu mungkin yang dipakai memenggal kepalanya.”
“Ngawur kamu Jo, masa nyolong timbangan saja dihukum pancung” sambil berkata Gepeng menempelkan tangan di leher temannya menirukan gerakan orang menyembelih.
Keduanya tertawa terpingkal-pingkal.
Matahari mulai condong ke arah barat. Lalu-lalang orang sudah sedikit berkurang. Di jalan hiruk-pikuk kendaraan seperti barisan orang yang mengantri beras, saling berebut mendahului, takut tidak kebagian.
“Lho bisa saja Peng, kamu sendiri tadi bilang orang nyolong ayam bisa mati dikeroyok” Parjo memulai lagi percakapan mereka.
“Betul Jo, gambar itu dipasang di sana pasti ada maksudnya, tapi bukan seperti yang kamu bilang tadi.”
“Lantas menurut kamu apa ?”
“Ya nggak tahu Jo. Mungkin justru perempuan di gambar sana itu yang menghukum orang bersalah, yang membawa pedang kan dia.”
“Bisa jadi seperti itu. Tapi kenapa matanya ditutup, apa nanti nggak keliru penggal?”
“Iya ya. Bisa-bisa orang yang bersalah nanti ngumpet, yang dipenggal justru yang tidak bersalah, kan dia nggak bisa melihat.”
Keduanya terdiam, saling pandang. Ketidaktahuan menyelimuti wajah mereka, gelap seperti awan di penghujung musim hujan saat ini yang menutupi Matahari jauh di atas sana. Sebentar lagi hujan turun, bencana banjir di depan mata. Berapa orang lagi yang akan kehilangan tempat tinggal?
Rombongan orang-orang yang membawa berbagai poster dan spanduk yang sejak tadi memenuhi gedung, kini mulai keluar. Beberapa orang diantaranya yang mendahului rekan-rekan mereka, melintas di depan kedua gembel yang masih betah duduk di bawah pohon di depan gedung itu. Gepeng dan Parjo mendengar percakapan mereka.
“Sangat keterlaluan,” ujar orang yang memakai kacamata dengan geram.
“Yang korupsi dan jelas-jelas makan uang rakyat saja rumahnya nggak disita” yang lain menimpali. Tidak kalah geramnya, sambil meninju telapak tangan sendiri.
“Lagi pula kok tumben, untuk urusan ini bisa secepat itu prosesnya” kali ini yang perempuan ikut bicara.
“Setidak-tidaknya mereka harus mempertimbangkan kalau kantor kita disita lantas kita bekerja di mana. Ini sama saja pembredelan. Berapa orang yang akan kehilangan pekerjaan? Sementara pemerintah sendiri tidak mampu menyediakan lapangan kerja, ini malah mau menambah pengangguran” yang berkacamata kembali bereaksi.
“Kalau yang disita rumah para penilep BLBI pasti saya dukung. Ini teror terhadap kita para pekerja pers. Harus dilawan! Ini sudah bukan masalah Goenawan dan Tempo saja, ini masalah kita semua. Menyangkut kebebasan pers, menyangkut hak rakyat untuk memperoleh informasi. Gila apa? Hukum kok dipakai main-main. Keterlaluan! Harus dilawan!” ujar yang lain dengan nada tinggi.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Gepeng dan Parjo sudah bersiap-siap melakukan niatnya. Kedua gembel itu berangkat lebih awal dari biasanya sekedar untuk memenuhi hasrat keingintahuannya.
“Pagi ini kita makan enak lagi Jo” ujar Gepeng dengan wajah berseri-seri.
Dari jarak yang tidak terlalu jauh kedua gembel itu memperhatikan kendaraan yang silih berganti memasuki areal perkantoran di mana setiap hari mereka menggantungkan harapannya untuk menemukan makanan sekedar pengganjal perut. Tiada hentinya kedua pasang mata itu mengikuti orang-orang yang baru turun dari mobil-mobil mewah berbagai merk, berjalan menuju pintu masuk gedung itu. Sesaat sebelum masuk mereka berhenti, tangan kiri membuka beberapa kancing baju bagian atas. Dengan sebilah pisau yang telah dipersiapkan lantas menorehkannya di bagian dada. Terlihat mereka merogoh rongga dada melalui celah yang terbentuk dari sayatan tadi. Dikeluarkannya organ tubuh berwarna kemerahan sebesar kepalan tangan lantas beramai-ramai mereka lemparkan organ tersebut ke sebuah keranjang sampah! Sepertinya ini merupakan sebuah ritual yang harus mereka lakukan sebelum memasuki gedung itu, sebelum menjadi penghuni dan anggota komunitas gedung itu.
“Jo, ternyata yang kita makan selama ini bukan ati ayam” ujar Gepeng sambil kedua tangannya memegang perut menahan mual.
Kedua gembel itu pun muntah sejadi-jadinya !

Purwokerto, 9 Oktober 2003