15 Maret 2007

GELIAT !!!

by:... (Nur Badrianto)

Dia, seorang anak muda yang tampan namun penuh dengan tanda tanya, mencoba mempertanyakan hal-hal yang selama ini telah mapan, mungkin dapat disebut juga sebagai orang yang antikemapanan. Adakah telah merasuk dalam benak kepalanya apa yang disebut orang sebagai dekonstruksi dan ia latah ikut-ikutan melakukannya? Iya’ betul.
Sepertinya tidak, ia adalah orang yang mencoba sadar terhadap pilihan hidupnya. Salah satu yang paling disukainya, dalam perjalanan hidupnya selama ini, adalah memahami sejarah. Baginya kesadaran terhadap sejarah harus dimiliki, agar kesalahan-kesalahan yang menimpa umat manusia pada masa lalu tidak terjadi lagi pada masa sekarang atau masa mendatang.
Sebagai seorang anak yang dilahirkan pada masa Orde Baru, dia tidak mengalami hiruk pikuk pergelutan politik yang sering diceritakan oleh orang-orang tua serta buku-buku yang wajib dibacanya di sekolah menengah atau pada penataran-penataran. Kata orang, pada masa lalu telah terjadi peristiwa yang teramat carut marut, penuh kekerasan yang mengalirkan darah dan airmata. Dia adalah anak yang dibesarkan masa pembangunan Orde Baru, yang tak pernah menyaksikan atau merasakan pahit getirnya perjuangan revolusi 1945, serta kejadian-kejadian yang menyusul setelah itu, dia hanya hidup di era Orde Baru yang tidak menjalankan lagi Pancasila dan UUD 1945 dan konsep demokrasi secara murni dan konsekuen, dan kemudian disertai dengan tumbangnya Soeharto saat Reformasi 98 diganti Habibie kemudian Gus Dur dan sekarang Megawati serta masih banyak lagi peristiwa yang seakan membuat jiwa heroismenya berkembang.
Dia, seorang mahasiswa angkatan 99-an pada sebuah universitas terkemuka di kota ini, dengan pikiran-pikiran linear pada awal memasuki perkuliahan, berbekal pesan dari orang tua agar cepat lulus dengan nilai terbaik.Tapi apa mau dikata, sepertinya bukan salah bunda mengandung, Dia, yang memang sejak kecil menyukai dongeng-dongeng sejarah serta rajin membaca, ditambah lagi sedikit kemampuan menulis dan berorganisasi (yang didapatnya pada sekolah menengah) tergoda untuk mencemplungkan diri pada sebuah arena permainan yang selama ini hanya dikenalnya dari buku-buku sejarah. Pada awalnya dia yang menonjol bakat kepemimpinannya tertarik untuk mengikuti sebuah organisasi mahasiswa ekstra kampus, dan mulailah perjalanan hidupnya diwarnai dengan berbagai hal, dan muncullah kembali pertanyaan-pertanyaannya tentang sejarah. Kembali ia tergoda untuk meragukan berbagai hal yang diyakininya selama ini sebagai sebuah keyakinan sejarah yang tak dapat diganggu gugat. Dia membaca berbagai buku serta media massa dengan begitu lahapnya, tanpa memperdulikan dari mana sumber tulisan itu. Dia teramat ingin tahu, ingin dilahapnya semua informasi yang didapatnya, karena dengan begitu, menurutnya akan didapatkan sebuah keseimbangan, sebuah keadilan dalam menilai segala sesuatu.
Berbicara dengannya seperti berbicara dengan hantu. Referensi tentang berbagai hal, sepertinya telah membuat lebih tua dari seharusnya. Janganlah lagi jika ditanya tentang gerakan mahasiswa, yang dapat diceritakan dan dianalisisnya secara luar biasa, tentang berbagai hal diluar itu pun seperti filsafat, seni, agama dan masih banyak lagi akan dibahasnya, dari berbagai sudut latar belakang sejarah yang coba dievaluasi dan dimaterialkan dalam hidup ini. ”Di luar dari praktek nilai aksiom yang mendua, praktek itu tidak memiliki kritik teoritik. Bagaimana kita benar-benar men­gerti makna 'keadaan'? Jika 'keadaan' diartikan sebagai suatu interval waktu yang kecil sekali, maka satu pon gula yang kita maksud ada dalam satu keadaan menuju perubahan yang tak terelak­kan. Apakah pengertian 'keadaan' adalah murni suatu abstraksi matematis, yaitu besaran waktu yang kosong?
Segala sesuatu eksis dalam konteks waktu, karena itu sebagai konsekwensinya, waktu adalah elemen dasar dari keberadaan/eksistensi. Jadi, menunjukkan bahwa satu hal sama dengan dirinya, jika ia tidak mengalami perubahan, yaitu: jika ia tidak exist"
Pertemuanku dengannya sering di sebuah kafe favoritku, pojok kota yang bening dan muram, pinggiran mainstreet. Ruangan kafe yang tak begitu luas dan hanya ada beberapa meja kursi. Suasana tak seramai kafe kota karena hanya ada beberapa gelintir orang, yang rata-rata sopir truk barang lintas propinsi. Di iringi musik lembut portir menghampiri kami dengan ramah dan selalu menyebut namaku dengan salah " Hallo Baba!" yang aku sendiri tak tahu siapa Baba itu. Malam berkelindapan, hujan habis sesore dan suara ilalang bergetaran. Di luar beberapa hewan malam menginap di kabel-kabel telefon. Ada satu hal yang mungkin merupakan kekurangan (atau kelebihannya barangkali), selama ini aku tak melihat ada seorang perempuanpun yang menjadi orang istimewa disampingnya atau sebutlah pacar atau kekasih yang menjadi tumpahan perasaan dan perhatiannya. Sepertinya ia memperlakukan semua perempuan dengan perlakuan serta perhatian yang sama (aku tahu dia sering mampir kerumah seorang perempuan hanya sekedar untuk minta kopi tidak lebih). “…Mau punya pacar atau tidak, itu kan tidak ideologis, itu hanyalah sebuah proses hidup dimana manusia adalah makhluk universal…”,
" Tentang kita atau kepanikanmu. Kenapa kau tak pernah menganggap suatu kewajaran dari apa-apa yang kita lakukan atau lebih tepatnya aku lakukan. Aku berkuasa atas diriku. Kalau kau tak mengartikulasikannya dengan wajar maka kau layaknya seorang Narsisus yang tak siap menerimaku secara utuh, tentang dua dunia yang harus di satukan, tentang dua kutub wilayahku yang harus bersandingan secara harmoni dan seimbang. Tuhan menciptakan dunia gelap dan dunia putih menjadi sebuah kesatuan yang tak bisa kita nafikan salah satunya, kalau kita ragu dalam memilih sebuah pilihan hidup maka jangan coba-coba kau lakukan,katanya suatu ketika.?”
"(Ha...ha…ha… aku sering ingin tertawa sendiri jika mendengar argumentasinya, sambil menjabarkan tentang segala hal tentang cinta, menurut Erich Fromm, Sigmund Freud, Gibran serta penyair-penyair romantis, bahkan Marx sekalipun yang dikenalnya lewat buku-buku, dan menyimpulkannya sendiri dengan muara kepada dirinya sendiri… Dasar! ).
Boleh dibilang, Dia adalah sosok manusia yang humanis yang menempatkan cinta sebagai sebuah wacana universalitas, dan kehidupan manusia demikian penting sehingga harus diberi makna, sesuai kodratnya. Dia akan teramat marah, ketika ketidakadilan nampak di depan matanya. Intrik politik dan permasalahan dalam masyarakat yang tak pernah selesai adalah bukti ketidak becusan pemerintah dalam melaksanakan keinginan rakyat katanya. Yang pasti, sosoknya itu dan pemikiran-pemikirannya telah membuahkan inspirasi bagiku. Dia sangat suka kalau aku sodori puisi-puisi yang bertemakan sosial. Katanya, nah ini baru puisi namanya. Aku teringat Dia, seseorang yang berarti bagi sekelilingnya, walau mungkin sejarah tak mencatatnya. Karena katanya, Sejarah hanya milik orang-orang besar dan serdadu!
Untuknya aku pernah menulis begini:

Bicaralah, aku kan mendengarkan kata-katamu sebagai bisikan pilu dari seorang manusia yang menghuni dunia sakit jiwa. Tatapan kosong. Senyum yang ditebarkan pada ruang. Kau lihatkah Freud menyorotkan senternya ke dalam matamu. Menemukan deretan panjang keluhan, ditekan dalam ke alam bawah sadarmu yang gelap. Berapa lagi pil penenang yang harus ditelan untuk melupakan mimpi buruk kenyataan yang berulang datang, dan lari ke dunia. Langkah itu begitu ganjil bikin tatapan heran sekelilingmu yang penuh tatakrama. Penuh aturan manusia. Adat istiadat yang mengharuskan kau berbuat normal.Lampu senter yang disorotkan ke dalam mata. melihat keterasingan di dalamnya. Penuh makian!

Dia pun tertawa membacanya, dan berkomentar: ah, kau anggap aku gila ya...mungkin benar juga, tapi sepertinya kita dihimpit oleh persoalan-persoalan yang membelenggu pemaknaan terhadap kehidupan manusia.
Namun, ada beberapa tulisan lagi yang belum dibacanya, yang aku tulis setelah pembicaraan tempo hari, mungkin aku terpengaruh argumentasinya. Akan meledak juga akhirnya, kemarahan itu, membakar gedung-gedung serta harta benda yang begitu kau cintai. Massa yang mungkin sukar kau mengerti maunya. Orang-orang yang menyimpan api dalam kepalanya dari waktu ke waktu, rasakan berjuta perasaan dalam dada bergalau tak karuan. Orang-orang yang memandang pameran kemewahan, namun mereka tiada mampu memilikinya, walau keringat telah diperas begitu deras, walau tulang belulang telah dibanting dengan begitu keras. Namun tetap saja yang terlihat ketidakadilan yang disodorkan di mana-mana. Mengapa kau tanyakan lagi; apa sebab kerusuhan itu terjadi. Darah membanjir. Air mata mengalir. Sedangkan jeritan itu tiap detik diperdengarkan meminta perhatianmu. Dan tak juga telingamu mendengarnya? Tidak ada satupun sistem sosial yg permanen, apa yang tetap adalah perkembangan dan transformasi masyarakat secara terus menerus. Kenyataan konkret dari kebenaran berarti bahwa pengetahuan kita tentang obyek dan fenomena di luar dunia haruslah sebuah kesatuan dari multiformitas, lebih dari sebuah refleksi dari satu aspek darinya. Setiap obyek dari realitas material memiliki seperangkat sifat-sifat dan keterkaitan obyek yang lain; lebih jauh lagi, hal tidak hanya memiliki kualitas umum namun juga memiliki kualitas uniknya.
Jemariku melukis dengan gemetar sebuah kota yang gemuruh, yang mencampakkan orang--orang yang kesepian ke dalam plaza, diskotik, cafe yang riuh serta ruang hotel hendak lunaskan mimpi senggama. Karena industrialisasi (juga modernisasi + westernisasi) telah mencemplungkan mereka ke dalam limbah-limbah pabrik dan melemparkannya ke udara yang pengap. Namun tak jera juga manusia mengadu nasibnya dengan map penuh kertas di tangan mengetuk pintu-pintu kantor, dimana mimpi-mimpi akan di simpan di dalamnya. Dan pada kerusuhan yang meledak di segala penjuru. Kita tatap wajah siapa. Selain orang-orang yang lelah dan benak penuh api, yang akan membakar, apa saja. Di tanganku yang gemetar, kota yang meledak menggigilkan harapan ke sudut-sudut peradaban.
Yang pasti beberapa hari ini aku tak pernah berjumpa dengannya, mungkin jiwa avonturirnya membawanya pada sebuah pemaknaan hidup seperti perempuan misalnya atau kehidupan buruh yang membuatnya selalu merasa sedih karena penindasan dari kaum pemilik modal yang dia pelajari selama ini dari teori-teori klas, tetapi yang pasti adalah bahwa Materi selalu dan terus-menerus dalam gerak. Dunia ini ada dalam keadaan gerak dari dia ada, berkembang, berubah dan lenyap. dan bahwa ia telah mendominasi dunia selama ratusan tahun, dan selanjutnya ia dalam proses digantikan oleh “sosialisme”.

Tidak ada komentar: