07 Maret 2007

Sepanjang Madinah – Jakarta

Cerpen: Joko S. Haryanto

Penerbangan Madinah – Jakarta terasa lama sekali, pesawat Saudi Air yang mengangkutnya pulang ke tanah air seakan tidak menghendaki Maryam bertemu orang-orang yang sangat dirindukannya. Orang-orang yang diharapkan bisa memberinya keteduhan dan perasaan aman. Betapa dirinya sangat ingin dimanusiakan. Perjalanan yang mestinya menyenangkan ini terasa sangat membosankan. Perasaannya tidak menentu, keinginannya untuk cepat-cepat sampai ke rumah silih berganti dengan kenyataan dan bayangan wajah-wajah kecewa dari orang-orang yang menantinya.
Belum genap satu tahun ia meninggalkan kampung halamannya. Sebuah desa pesisir di pantai selatan Pulau Jawa di kaki sebelah barat bukit Selok. Sesekali Maryam teringat desa kelahirannya. Terbayang olehnya tumpukan bata merah di kanan-kiri jalan menuju desanya dan raungan truk yang mengangkut ratusan kubik batu bata menuju ke kota. Sesekali melintas iring-iringan truk besar menuju lokasi penambangan pasir besi di sebelah selatan desa. Jika melihat truk-truk tua itu berjalan terseok-seok dengan muatan penuh berton-ton pasir besi, ia teringat ayahnya. Lelaki tua yang hampir seluruh umurnya dihabiskan untuk menjadi buruh mencetak batu bata. Pekerjaan itu ditekuni sejak masih anak-anak, demikian juga orang tuanya secara turun temurun.
Keadaan itulah yang mendorongnya mengikuti jejak beberapa tetangga yang telah ‘sukses’ mengadu nasib di negeri orang. Ia tidak ingin ketiga adik lelakinya menjadi buruh mencetak batu bata seperti orang tua dan kakek buyutnya. Bergelut dengan lumpur di bawah ganasnya terik matahari pantai selatan. Ia ingin adik-adiknya bersekolah minimal sampai SLTA, walaupun ia tahu di jaman sekarang itu bukan jaminan, tetapi setidaknya ia telah berusaha. Ia ingin memutus siklus yang telah berjalan berpuluh-puluh tahun yang telah menjadi lingkaran setan yang membelenggu keluarganya seperti ratusan keluarga yang lain.
“Pergilah Nduk,” kata ayahnya ketika itu. “Kamu masih muda, impian kamu masih banyak. Bapak hanya berpesan jaga dirimu baik-baik, kita semua tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada dirimu.”
Dukungan dari orang tua dan saudara-saudaranya, membesarkan hatinya.
“Tapi jika sampai terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan, kamu harus berani menghadapi kenyataan. Jangan malu untuk pulang. Apapun yang terjadi, kami tetap menunggu kepulanganmu.”
Menjelang pesawat yang ditumpangi mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, kegalauan hatinya bertambah. Ia tak sanggup membayangkan pertemuan yang sangat dinanti-nantikan sekaligus ingin dihindari itu. Betapa tidak, tujuh bulan yang lalu ayahnya merelakan menjual kedua ekor sapi yang merupakan tabungan keluarga itu untuk biaya keberangkatannya ke Arab Saudi. Dengan harapan kelak ia bisa menggantinya dengan gaji yang ia terima selama bekerja di sana. Penghasilannya selama dua tahun bukan saja cukup untuk membeli dua ekor sapi, bahkan ia berencana untuk membangun rumah orang tuanya menjadi rumah permanen yang layak huni. Sisanya untuk biaya sekolah adik-adiknya.
Untuk dia sendiri, ia berencana memperpanjang kontrak selama dua tahun lagi. Dengan uang itu ia berencana membeli sebuah pick-up bekas. Desanya yang terkenal sebagai penghasil batu bata dengan kualitas baik memberinya inspirasi untuk membuka usaha jasa pengangkutan. Mas Darno yang nantinya akan menjalankan usaha itu. Dengan pengalamnya selama ini sebagai seorang sopir, kekasihnya itu tentu memiliki banyak relasi toko bahan bangunan di kota dan juga para juragan batu bata di desanya. Demikian masa depan yang dibayangkan dengan penghidupan yang lebih baik bersama orang yang dicintainya. Sebuah impian yang bagi orang lain mungkin terlalu sederhana.
Maryam teringat saat itu, hari Minggu terakhir menjelang keberangkatannya ke Arab Saudi tujuh bulan yang lalu. Deburan ombak laut selatan seakan gairah dan tekad dirinya yang menggelora. Kaki-kaki kecilnya terus saja berjalan menelusuri Pantai Srandil. Di sebelahnya dengan penuh kesabaran kekasihnya mengikuti setiap langkahnya.
“Mas Darno tidak keberatan saya pergi?” Maryam berkata pelan, sambil terus berjalan dan membiarkan pecahan ombak menjilati kakinya.
Yang ditanya hanya menggelengkan kepala, “Dua tahun bukan waktu yang lama dibanding masa depan kamu dan adik-adikmu.”
“Masa depan kita juga, Mas.”
Kembali keduanya terdiam. Desir angin yang kencang dan debur ombak laut selatan yang selalu menggelora itu seakan mewakili percakapan mereka. Angin melambungkan harapan dan debur ombak adalah tekad. Sayang hanya butiran pasir halus dan jilatan lembut pecahan ombak yang ia rasakan sepanjang pantai. Padahal di luar sana ada banyak kerikil yang harus ia lewati yang mungkin akan membuat kaki-kaki kecilnya terluka.
Bus yang mengangkutnya dari terminal II ke terminal III Bandara Soekarno-Hatta sudah ia tinggalkan. Maryam semakin gelisah. Berbagai macam pungutan dan proses yang panjang dan melelahkan serta sikap petugas yang kadang tidak simpatik, sama sekali tak mengusiknya. Ia tak pernah berpikir bahwa seandainya setiap hari ada 500 TKI yang pulang berarti ada puluhan juta rupiah uang yang dipungut dari mereka. Itu berarti ada lebih dari satu milyar rupiah setiap bulan, uang yang dipungut dari orang-orang seperti dirinya. Jumlah yang cukup banyak. Cukup untuk pendanaan sebuah program perlindungan dan pembelaan orang-orang seperti dirinya. Program yang berpihak pada mereka, para penghasil devisa, para pahlawan keluarga yang menggerakan roda perekonomian di desa-desa.
Namun Maryam dan juga yang lainnya, menjalani saja semua itu sebagai sesuatu yang dianggap sudah semestinya. Pasrah. Ya, hanya kepasrahan yang masih mampu membesarkan hatinya dan memberinya keberanian untuk menghadapi kenyataan. Apa yang bisa dilakukan oleh orang-orang seperti dirinya? Melawan? Tidak! Ia diajari untuk selalu menerima apa saja yang terjadi pada dirinya sebagai takdir yang memang sudah seharusnya terjadi. Ia hampir tidak pernah mengenal kata-kata itu. Bahkan saat ini ia bertekad untuk tidak bersentuhan lagi dengan kata-kata itu sepanjang hidupnya. Dua kali ia mencobanya, dua kali pula ia menderita.
Pertama, ia mencoba melawan nasib buruk dengan meninggalkan kampung halamanya. Ia harus menerima kesendirian, keterasingan dan kerinduan yang sangat dalam. Kedua, ia mencoba melakukan perlawanan terhadap nafsu bejat majikan dan ia harus menerima kenyataan bahwa dirinya telah kehilangan mahkota sekaligus masa depan yang ia impikan. Jadi, apalah artinya kehilangan sekian puluh ribu rupiah dan sekian jam waktu untuk berbagai macam pendataan dan pemeriksaan. Baginya, semakin cepat ia tinggalkan bandara, semakin cepat ia sampai ke kampung halamannya, semakin cepat ia tahu bagaimana reaksi orang-orang yang dicintainya.
Kemudian ia akan memulai lagi kehidupannya. Namun kali ini ia hanya bisa berharap. Berharap saja, lain tidak. Berharap orang-orang yang dicintainya bisa menerimanya kembali. Kembali menjadi bagian hari-hari mereka. Kembali dengan keakraban debu, pasir dan ombak laut selatan. Seperti Bukit Selok yang kini kehilangan keteduhannya, kehilangan hijaunya, gersang dan tandus akibat nafsu serakah manusia, toh masih mampu berdiri tegak bersanding dengan Pantai Srandil tanpa membuatnya kehilangan pamor dan kewibawaannya. Kembali menjalani kehidupan yang sudah terlanjur direntang barsama. Cukup panjang. Sepanjang perjalanan yang baru saja dilaluinya, perjalanan Madinah – Jakarta.

Purwokerto, 21 Oktober 2003

Tidak ada komentar: